Selasa, 14 Januari 2014

Diagnosis Kesulitan Belajar di Sekolah



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Masalah kesulitan belajar yang dialami oleh para peserta didik merupakan masalah penting yang perlu mendapat perhatian yang serius dikalangan para pendidik. Dikatakan demikian, karena kesulitan yang dialami oleh para peserta didik disekolah akan membawa dampak negatif baik terhadap diri siswa itu sendiri maupun terhadap lingkungannya.
Hal ini termanifestasi dalam bentuk timbulnya kecemasan, frustasi, mogok sekolah drop uot, dll.Untuk mencegah dampak yang lebih jelek timbul karena kesulitan belajar yang dialami para peserta didik, maka para pendidik harus waspada terhadap gejala-gajala kesulitan belajar yang mungkin dialami oleh para peserta didiknya. Untuk itu, maka uraian berikut ini akan membahas tentang hal-hal yang berhubungan dengan kesulitan belajar yang dialami oleh para peserta didik.  

B.     Tujuan Masalah
Adapun tujuan dalam pembuatan makalah tentang diagnosis adalah agar  para khalayak umum baik itu penulis maupun pembaca dapat mengetahui maupun memahami pemahaman tentang perkembangan para peserta didik khususnya. 



BAB II
PEMBAHASAN

  A.    DIAGNOSIS KESULITAN BELAJAR DISEKOLAH
Masalah kesulitan belajar yang sering dialami oleh para peserta didik sekolah, merupakan masalah penting yang perlu medapat perhatian yang serius dikalangan para pendidik. Dikatakan demikian, karena kesulitan belajar yang dialami oleh para pesertadidik disekolah akan membawa dampak negatif, baik terhadap terhadap diri siswa itu sendiri maupun terhadap lingkungannya. Hal ini termanifestasi dalam bentuk timbulnya kecemasan, frustasi, mogok sekolah, drop out, keinginan untuk berpindah-pindah sekolah karena malu telah tinggal kelas beberapa kali, dan sebagainya.
Untuk mencegah dampak negatif yang lebih jelek, yang mungkin timbul karena kesulitan belajar yang dialami para peserta didik, maka para pendidik(orang tua atau guru, dan guru pembimbing) harus waspada terhadap gejala-gejala kesulitan belajar yang mungkin dialami oleh para peserta didiknya. Untuk itu uraian berikut ini akan membahas tentang hal-hal yang berhubungun dengan kesulitan belajar yang biasa dialami oleh para peserta didik disekolah.

  B.     Karakteristik peserta didik disekolah
Sebagai mana yang telah diketahui bahwa peserta didik adalah individu yang unik, yang mempunyai kesiapan dan kemampuan pisik, psikis serta intelektual yang berbeda satu sama lainnya.[1]Demikian pula halnya dalam proses dalam belajar, setiap peserta didik mempunyai karakteristik yang berbeda. Demikian juga halnya dalam belajar, setiap pesrta didik mempunyai karakteristik yang berbeda. Adapun karakteristik peserta didik dalam belajar disekolah adalah sebagai berikut:

1.   Peserta Didik Yang Cepat Dalam Belajar
Peserta didik yang cepat dalam belajar, pada umumnya adalah siswa yang dapat menyelesaikan proses belajar dalam waktu yang cepat dari pada ynag diperkirakan semula. [2]Mereka dengan mudah dapat menerima materi pelajaran yang disajikan, dan mereka juga tidak memerlukan waktu yang lama untuk memecahkan permasalahan yang dihadapkan kepada mereka. Pada umumnya siswa yang cepat dalam belajar ini mempunyai IQ(tingkat kecerdasan) diatas 130, yakni tergolong genius atau gifted. Kedudukannya dalam kelompok selalu derada posisi atas.
Meskipun demikian, peserta didik ynag cepat dalam belajar sering juga mengalami kesulitan dalam belajar. Karena pada umumnya kegiatan belajar disekolah selalu menggunakan ukuran normal(rata-rata) dalam kecepatan belajar. Oleh karena itu, salah satu usaha untuk membantu mereka mengatasi kesulitan belajarnya adalah dengan cara memberiakn tugas-tugas tambahan kepada merekla sebagai bahan pengayaan.
2.   Peserta Didik Yang Lambat Dalam Belajar
Peserta didik yang lambat dalam belajar merupakan kebalikan dari pada siswa yang cepat dalam belajar, dimana peserta didik yang lambatdalam belajar memerlukan waktu yang lama/panjang dari waktu yang diperkirakan cukup untuk kondisi untuk siswa yang normal. Hal ini menyebabkan mereka sering merasa tertinggal dalam proses belajarnya, ssehingga mereka menemukan kesulitan belajar. Dipandang dari segi tingkat kecerdasan(IQ) pada umumnya peserta didik yang lambat dalam  belajar ini mempunyai IQ dibawah rata-rata atau normal, sehingga meraka memerlukan perhatian khusus dan waktu yang lebih lama dalam proses belajarnya.[3]
3.   Peserta Didik Yang Kreatif
Peserta didik yang kreatif adalah siswa yang menunjukkan kreativitas yang tinggi dalam kegiatan-kegiatan tertentu, seperti dalam melukis, menggambar, olahraga.Kesenian, organisasi dan kegiatan kurikuler lainnya. Pada umumnya siswa yang kreatif ini terdiri dari pesrta didik yang cepat dalam belajar, disamping siswa yang normal(rata_rata). Peserta didik yang kreatif ini dalam proses belajarnya lebih mampu pula memecahkan permasalahan yang dihadapkan kepada mereka dengan berbagai variasi. Dalam memecahakan permasalahan yang dihadapkan kepada mereka lebih senang bekerja sendiri, percaya diri, dan mereka berani menanggung resiko yang sulit sekalipun, bahkan kadang-kadang bersifat destruktif, disamping sering juga bersifat konstruktif.Untuk mengembangkan kreativitas para peserta didik ini, sekolah diharapkan dapat memberikan kesempatan yang seluas-luasnya.
4.   Peserta Didik Yang Drop Out
Peserta didik yang drop out adalah siswa yang tidak berhasil atau siswa yang gagal dalam kegiatan belajarnya.Adapun penyebab drop out ini banyak sekali, barang kali disebabkan oleh faktor yang ada didalam diri peserta didik sendiri, seperti kurang minat, malas dan sekolah/jurusan tidak sesuai dengan cita-cita dan lain sebagainya. Mungkin pula disebabkan oleh faktor eksternal, seperti kurikulum, metode mengajar yang digunakan guru, lungkungan masyarakat yang tidak  mendukung atau keluarga broken home dan lain sebagainya.
Dalam hal ini menjadi permasalahan adalah bagaimana membantu peserta didik yang drop uot ini, agar mereka dapat mebnjadi warga masyarakat yang berima dan bertaqwa serta berguna baik bagi dirinya sendiri maupun bagi bangsa dan negara.[4]
5.   Peserta didik yang “Underachiever”
Peserta didik yang tergolong underachiever adalah siswa yang memiliki taraf intelegensi yang tergolong tinggi, akan tetapi memperoleh prestasi belajar yangtergolong rendah(dibawah rata-rata kelas). Peserta didik ini dikatakan “undercaheiver” kerena secara potensial, peserta didik yang memiliki taraf intelegensi yang tinggi mempunyai kemungkinan cukup besar untuk memperoleh prestasi belajar yang tinggi, akan tetapi dalam hal dibawah tersebut mempunyai prestasi belajar yang dibawah kemampuan potensial mereka.
Dari hasil penelitian para pakar, ditemukan bahwa tarap intelegensi pesrta didik yang underachiever ini diatas 100, akan tetapi prestasi belajar mereka berada pada golongan dibawah rata-rata. Dan jumlah mereka adalah sekitar 5 %-15% dari seluruh jumlah siswa disekolah tersebut.Peserta didik underachiever ini, dipandang sebagai siswa ynag mengalami kesulitan dalam belajar disekolah, kerena secara potensial mereka memiliki kemungkinan untuk memperoleh prestasi belajar yang tinggi.
Keadaan ini biasanya dilatarbelakangi oleh aspek motivasi, minat, sikap, kebiasaan belajar, ciri-ciri keperibadiaan tertentu atau pun pola-pola pendidikan yang diterima dari orang tua dan suasana keluarga  yang tidak mendukung. Sudah pasti peserta didik yang underachiever ini memerlukan perhatian yang istimewa dari para guru, guru pembimbing dan kepala sekolah.
Disamping kelima karakterristik yang telah diuraikan diatas, ada beberapa karakteristik lainnya,sepertilearning disabilities, learning disfunction, learninmg disorder.[5]Learning disabilitas adalah peserta didik yang tergolong pada siswa yang karena sesuatu hal yang tidak mampu belajar atau mereka menghindar dari kegiatan belajar, sehingga prestasi belajar yang dicapainya meniadi rendah.
Learning disfuntion adalah gejala yang dialami peserta didik, dimana psoses belajarnya tidak berfungsi dengan baik, meskipun sebenarnyasiswa tersebut tidak menunjukkan adanya submoralitas mental, gangguan aklat dria, atau  gangguan psikologis lainya. Adapun peserta didik yang mengalami learning lisorder, adalah peserta didik yang mengalami kekacauan belajar, yakni kekacauan dimana proses belajarnya terganggu karena timbulnya respon yang bertentangan.

  C.    Gejala kesulitan belajar disekolah
Sudah menjadi harapan setiap pendidik, agar pesrta didiknya dapat mencapai hasil belajar yang sebaik-baiknya sesuai dengan hasil tujuan yang telah digariskan dalam proses belajar mengajar disekolah. Namun, kenyataannya yang dihadapi tidak selalu menunjukkan apa yang diharapkan itu dapat terealisir sepenuhnya. Banyak peserta didik yang menunjukkan tidak dapat mencapai hasil belajar sebagaimana yang diharapkan oleh para pendidiknya.
Dalam proses belajar mengajar guru/pendidik sering menghadapi masalah adanya peserta didik yang tidak dapat mengikuti pelajaran dengan lancar, adanya siswa yang memperoleh prestasi belajar yang rendah, meskipun telah diusahakan untuk belajar dengan sebaik-baiknya,dan lain sebagainya. Dengan kata lain guru/pendidik sering   menghadapi dan menemukan peserta didik yang mengalami kesulitan dalam belajar.
Dalam hal menghadapi peserta didik yang mengalami kesul,itan dalam belajar, pemahaman yang utuh dari guru tentang kesulitan belajar yang dialami oleh peserta didiknya, merupakan dasar dalam usaha memberiakan bantuan dan bimbingan yang tepat. Kesulitan belajar yang dialami oleh peserta didik itu akan termanifestasi dalam berbagai macam gejala.[6]
Menurut Moh. Surya, ada beberapa ciri tingkah laku yang merupakan manifestasi dari gejala kesulitan belajar, antara lain:
a.       Menunjukkan hasil belajar yang rendah(dibawah rata-rata nilai yang dicapai olreh kelompok kelas)
b.      Hasil yang dicapai tiadak seimbang dengan usaha yang dilakukan. Mungkin murid yang selalu berrusaha dengan gait tapi nilai yang dicapai selalu rendah.
c.       lambat dalam  melakukan tugas-tugas kegiatan belajar, ia selalu tertinggal dari kawan-kawannya dalam menyelesaikan tugas-tugas sesuai dengan waktu yang tersedia.
d.      Menunjukkan sikap-sikap yang kurang wajar, seperti acuh tak acuh, menentang, berpura-pura, dusta, dsb.
e.       Menunjukkan tingkah laku yang berkelainan, seperti membolos, datang terlambat, tidak mengerjakan pekerjaan rumah, menggangu didalam dan diluar kelas, tidak mau mencatat pelajaran, mengsingkan diri, tersisih, tidak mau bekerja sama, dsb.
f.       Menunjukkan gejala emosional yang kurang wajar, seperti pemurung, mudah tersinggung, mudah pemarah, tidak gembira dalam menmghadapi situasi tertentu, misalnya dalam menghadapi nilai rendah tidak menunjukkan sedih atau menyesal dsb.(1985:86).

Dari apa yang dikemukakan diatas dapat difahami adanya beberapa manifestasi dari gejala kesulitan belajar yang dialami oleh para peserta didik. Dari gejala-gejala yang termanifestasi dalam tingkah laku setiap peserta didik, diharapkan para pendidik/guru dapat memahami dan mengidentifikasikan mana siswa yang mengalami kesulitan dalam belajar dan mana  yang tidak.[7]
  D.    Latar Belakang Kesulitan Belajar 
Sebagaimana  yang telah dikemukakan uraian terdahulu  bahwa disekolah para pendidik/guru sering menghadapi peserta didik yang mengalami kesulitan dalam belajar. Kesulitan belajar yang dialami peserta didik tersebut termanifestasi dalam berbagi bentuk gejala tingkah laku.Gejala kesulitan yang termanifestasi dalam tingkah laku peserta didik itu merupakan akibat dari beberapa faktor yang melatar belakanginya.Untuk dapat melakukan bimbingan yang efektif terhadap peserta didik yang mengalami kesulitan belajar itu sudah tentu setiap pendidik/guru memahami terlebih dahulu faktor yang melatar belakangi kesulitan belajar tersebut.
Menurut para ahli pendidik, hasil belajar yang dicapai oleh para peserta didik dipengaruhi oleh dua faktor utama, yakni faktor yang terdapat didalam diri peserta didik itu sendiri yang disebut faktor internal.Dan faktor yang terdapat diluar diri peserta didik disebut faktor eksternal.
Faktor internal atau faktor yang terdapat didalam diri peserta didik itu sendiri antara lain adlah sebagai berikut:
1.      Kurangnya kemampuan dasar yang dimiliki oleh peserta didik.
2.      Kurangnya bakat khusus untuk suatu situasi belajar tertentu.
3.      Kurangnya motivasi atau dorongan untuk belajar, tanpa motivasi yang besar peserta didik akan banyak mengalami kesulitan dalam belajar, karena motivasi merupakan faktor pendorong kegiatan belajar.
4.      Situasi pribadi terutama emosional yang dihadapi peserta didik pada waktu tertentu dapat menimbulkan kesulitan dalam belajar, misalnya: konflik yang dialaminya, kesedihan, dan lain sebagainya.
5.      Faktor jasmaniah yang tidak mendukung kegiatan belajar, seperti ganguan kesehatan, cacat tubuh, gangguan penglihatan, ganguan pendengaran dan lain sebagainya.
6.      Faktor hederitas(bawaan) yang tidak mendukung kegiatan belajar, seperti buta warna, kidal, troper, cacat tubuh dan lain sebagainya.[8]
Adapun faktor yang terdapat diluar diri peserta didik(faktor eksternal) yang dapat mempengaruhi hasil belajar siswa adalah:
a.       Faktor lingkungan sekolah yang kurang memadai bagi situasi belajar peserta didik.
b.      Situasi dalam keluarga yang kurang mendukung situasi belajar peseryta didik, seperti broken home. Kurangnya perhatian orang tua karena sibuk dengan pekerjaannya, kurangnya kemampuan orang tua dalam memberi pengarahan dan lain sebagianya.
c.       Situasi lingkungan sosial yang menganggu kegiatan belajar siswa, seperti pengaruh negatif dari pergaulan, situasi masyarakat yang kurang memadai, gangguan kebudayaan, film, bacaan, permainan elekteonik, dsb.[9]
 
  E.     Patokan Kesulitan Belajar
Setelah memahami gejala kesulitan belajar yang mungkin dialimi oleh peserta didik, maka seorang guru/pendidik juga memerlukan adanya norma sebagai batas atas patokan untuk menentukan mana siswa yang mengalami kesulitan belajar dan  dengan  yang tidak. Dengan adanya patokan yang jelas, diharapkan seorang guru/pendidik dapat dengan mudah menandain peserta didik yang mengalami kesulitan dalam belajar. Uraian berikut akan mengemukakan beberapa faktor yang bisa digunakan untuk menandai kesulitan belajar yang mungkin dialami oleh para peserta didik.
1.      Tujuan pendidikan
Tujuan pendidikan merupakan komponen penting yang berperan untuk menentukan arah proses kegiatan pendidikan. Tujuan pendidikan disusun secara berjenjang, yaitu mulai secara berturut-turut dari tujuan pendidikan nasional, insttitusional, kurikuler, dan instruksional. Tujuan-tujuan yang disebutkan lebih kemudian, secara struktural dibawahi dan dijabarkan langsung dari tujuan atau rumusan tingkah laku yang diharapkan dimiliki oleh siswa setelah ia menyelesaikan program pendidikannya dilembaga tersebut, seperti tujuan Madrasah Ibtidaiyah, tujuan Madrasah Aliyah(MA), tujuan Madrasah Tsanawiyah dan lain sebagainya.[10]
Berdasarkan  patokna tujuan pendidikan yang telah digariskan, maka diidentifikasikan bahwa peserta didik yang tidak dapat mencapai tujuan pendidikan yang telah digariskan. Dengan demikian peserta didik yang mendapat kesulitan belajar di Madrasah Tsanawiyah adalah siswa yang tidak mencapai tujuan-tujuan institusional yang telah ditetapkan. Sedangkan siswa yang mendapat kesulitan belajar dalam bidang studi Agama adalah siswa yang tidak mampu mencapi tujuan instruksional Agama yang telah ditetapkan
Adapun cara yang dapat digunakan untuk menandai mana siswa yang mendapat kesulitan belajar dalam suatu bidang studi/mata pelajaran dapat dilakukan melalui hal-hal sebagai berikut:
a.       Sebelum proses belajar juan telah dimulai, tujuan telah dirumuskan secara jelas dan operasional, baik dalam bentuk tujuan kurikuler, maupun dalam bentuk tujuan instruksional.
b.      Hasil belajar yang dicapai oleh setiap peserta didik merupakan gambaran tinglat pencapaian tujuan tersebut.
c.       Kedudukan dan kelompok.
d.      Perbandingan antara potensi dan prestasi,.
e.       Kepribadiaan.[11]

  F.     Diagnosis Kesulitan Belajar
Setelah memahami beberapa kriteria siswa dalam belajar, gejala kesulitan, faktor-faktor yang mempengaruhi siswa dalam belajar serta patokan untuk menandai siswa yang mengalami kesulitan dalam belajar, maka seorang guru/pendidik harus pula dapat memberikan bantuan/bimbingan untuk mengatasi kesulitan belajar yang dialami oleh peserta didik tersebut.  Untuk dapat memberikan bantuan dan bimbingan yang efektif, maka seorang guru/pendidik terlebih dahulu melakukan diagnosis kesulitan yang dialami para peserta didik, dengan langkah-langkah sebagia berikut:
a.       Kenali Peserta Didik Yang Mengalami Kesulitan Belajar.
b.      Memahami Sifat Dan Jenis Kesulitan Belajarnya.
c.       Menetapkan Latar Belakang Kesulitan Belajar.
d.      Menetapkan Usaha-Usaha Bantuan.
e.       Pelaksanaan Bantuan.
f.        Tindak Lanjut.[12]


[1]Dra. Hallen A., M.Pd. Bimbingan dan Konseling.Ciputat Pers,Jakarta.2002.hal.123
[2] Ibid. hal.124
[3]Ibid.hal.125
[4] Ibid.hal.126
[5] Ibid.hal.127
[6] Ibid.hal.128
[7] Ibid.hal.129
[8] Ibid.hal.130
[9] Ibid.hal.131
[10] Ibid.hal.132
[11] Ibid.hal.133
[12] Ibid.hal.138

Tidak ada komentar:

Posting Komentar